Rabu, 21 Januari 2026

5 Years!

Hello, back again!

Setelah baca postingan lama di blog ini ternyata gue baru sadar bahwa Januari 2026 ini merupakan tahun ke 5 gue aktif berolahraga. Wow!

The never ever good at sports since kid ternyata bisa konsisten bergerak demi kesehatan. Gue akuin ini adalah achievement terbaik gue dalam hidup. 

Pas banget kan, sekarang lagi trend2 nya gaya hidup sehat tuh. Ga sedikit teman gue yang juga never ever good at sports sudah mulai berolahraga. Selama 5 tahun ini juga sudah banyak jenis olahraga yang trendnya naik turun. Dari mulai trend sepeda, lari, tennis, pilates, padel, gym, hyrox, semuanya berhasil gue laluin tanpa FOMO. Hahaha, inipun pencapaian dalam hidup. Ini berarti gue olahraga bukan karena ikut2an tapi karena emang butuh dan niat untuk investasi kesehatan di masa depan.

Well, cerita kenapa gue akhirnya olahraga sempat gue tulis juga di postingan gue di Januari 2021. Intinya gue olahraga karena gue penyakitan. Shout out to dokter oka yang membuat gue akhirnya tersadar!

Olahraga pertama yang gue coba adalah jalan di tempat. Literally! Gue buka video walk at home di youtube dan kaya orang gila aja jalan ditempat selama 15 menit tiap hari.

Lama-lama membosankan kan. Dan karena Denpasar enak banget buat kita olahraga diluar, akhirnya mulailah keluar. Jalan kaki diluar, lari tipis-tipis. Sampai akhirnya nekat daftar private gym (waktu itu lagi covid). 

Kelar 10 sesi gym, gue daftar kalistenik. Nah! Disitulah life changer gue! Sampe pernah perut gue kotak2 tu gara2 bodyweight dan lari. Berat badan pun mencapai angka terkecil dengan massa otot terbesar. Gila kan. Shout out buat coach victor.

Setelah ga kalistenik lagi (karena jadwal bentrok), gue akhirnya olahraga sendiri. Self workout at home dan lari diluar rumah. Sampai detik ini masih rutin. Cuma mungkin bedanya, waktu di Bali gue lebih sering lari diluar rumah, karena environment mendukung. Setelah di Jakarta gue lebih sering home workout dengan dumbell. Sekarang dumbell gue udah 7.5kg, dan setiap weekend gue selalu lari 10km.

Dengan pola olahraga seperti ini gue merasa bulking, karena cardionya sangat sedikit. Pantes aja gemoy sekarang.

Kalo si bungsu udah bisa ditinggal, gue sepertinya akan balik lagi ke kalistenik atau mungkin nge gym karena gym beredar dimana2. Lari diluar rumah sepertinya akan sulit, mengingat sekolah nya si sulung pagi banget. Untuk olahraga fomo, yang gue penasaran pengen coba cuma hyrox dan hiking.

Yaallah selama 5 tahun ini belum kesampaian dong trail run. Harus juga dicoba, yuk kapan kita naik gunung?




Senin, 13 Oktober 2025

Now I Know Why

Hello.
Postingan terakhir gue tulis di bulan Februari. Now it's October already.
Masih lebih mending lah daripada postingan sebelumnya di 2022...alias 3 tahun nggak nulis di blog ini.
Sekarang sudah ada kemajuan yah.

Yup, finally I moved to the city I hate for the rest of my quarter life; Jakarta. Ini sudah berjalan 6 bulan lamanya gue bertahan hidup disini.
Awalnya, jujur sangat struggling hard. Karena terbiasa 7 tahun hidup secara slow living di Bali, sekarang harus kerja keras, dan se KERAS itu. Rasanya menyiksa.

Bangun harus lebih pagi. Ga bisa santai-santai. Settingan auto nya udah harus buru-buru kemana-mana. In here, time is more valuable than money. Gue telat pulang 5 menit aja gue bisa kehilangan waktu berharga bersama orang tersayang di rumah. Waktu di Bali, gue bisa "everything everywhere all at one". Sekarang, jujur susah banget dan gue sedih gue ga bisa se multitasking dulu. Orang-orangnya juga tidak seramah dan sehangat di Bali. Akhirnya gue kembali ke settingan pabrik gue dulu, ga perlu ramah sama orang. Ga perlu basa-basi dan bersosialisasi sama stranger. Karena disini masing-masing orang fokus dengan ambisinya. Jika ada keperluan bisa langsung to the point dan menjadi straightforward adalah hal yang sangat umum. Tidak seperti di Bali yang budayanya "sungkan".


Tapi lama-lama gue terbiasa.
Disaat gue mencari cara menikmati kota yang gue benci ini, satu persatu Allah memberikan gue brutal fact tentang pulau yang dulu gue idamkan.

Orang yang gue sangat percaya selama bertahun-tahun di Bali ternyata mengkhianati gue selama ini. Dan begitu dia ketahuan menipu gue selama ini, dia langsung kabur selayaknya pencuri. Disitulah titik balik pemikiran gue yang tadinya benci kota ini menjadi berbalik 180 derajat.

Ternyata gue pindah kesini itu adalah cara Allah menyelamatkan gue dari si orang yang menipu gue ini. Secara ga sadar pun Allah udah kasih petunjuk ke gue berkali-kali kalo gue dijahatin. Secara langsung, dari orang lain, dari mimpi, dari bukti-bukti, maupun dari intuisi. Tapi gue terlalu percaya sama ini orang. Bodohnya gue selama ini.

Ternyata kota ini menyelamatkan hidup gue!
Pengorbanan, usaha, kerja keras gue bertahan hidup disini pun membawa banyak hal baik. Membuka peluang baru, pemikiran yang lebih terbuka, banyak teman (yang di postingan sebelumnya gue permasalahkan karena di Bali tidak ada teman). Tentunya banyak hal positif yang didapat, daripada gue terjebak di pulau dengan si serigala berbulu domba itu.

Gue juga harus berterimakasih sama si pengkhianat. (Well how to make it sounds like not in a good way?) Mungkin ini adalah pelajaran terbesar dalam hidup gue yang sampai saat ini gue juga belum tamat menjalaninya; healing with my trauma. Di detik gue tau dia berkhianat, tidak ada satupun air mata gue jatuh untuk dia. Gak akan sudi. Yang ada hanyalah amarah yang besar, yang gue lampiaskan dengan hal-hal positif. 

Gue berhenti dengerin the beatles dan tiktok (so sad karena gue cinta the beatles tapi kejadian itu ada hubungannya dengan the beatles dan tiktok), hapus memori selama di Bali, berhenti memakai baju, atribut dan apapun yang ada hubungannya dengan sesuatu yang membuat gue teringat dengan trauma gue. Terdengar berlebihan yah? Aslinya gue prefer ke psikolog, tapi menurut gue terlalu kompleks buat ceritainnya ke orang lain. Butuh waktu dan energi besar. Tapi gue janji kepada diri gue sendiri bahwa gue harus ditangani orang yang tepat demi kesehatan mental gue.

Tahun ini merupakan tahun terburuk selama gue hidup. Hingga hari ini, kota ini lah yang sangat berjasa bagi kejadian yang gue alami di tahun terburuk gue ini.

Ternyata yang gue benci adalah yang gue butuhkan. Somehow, I owe you much things, Jakarta. Now I know why.

Senin, 10 Februari 2025

It's been 3 years

Udah 3 tahun...Apa yang mau aku tulis? yang pasti, sebenarnya aku ga pengen pergi dari sini. Aku suka hidup di sini. Aku suka hidup slow living. Aku benci ibukota. Hiruk pikuk nya. Polusi udaranya. Orang2 nya yang gak tulus. Ambisi mereka mengejar sesuatu, hanya demi terlihat luarnya aja. Demi uang? nggak mungkin. Uang berapapun habis. Jabatan? Aku percaya sebenarnya prestis nomer 1.

yang ga aku suka darisini hanyalah.. apa ya.. hampir ga ada. hidup seperti ini yang ku inginkan. Yang semua serba bisa di raih dalam 1 waktu.  Mungkin minusnya aku sendirian. Tapi disinilah ambisiku berada. Mengerjakan semuanya sendirian, tanpa bantuan orang. Disatu sisi terasa berat. Terasa sepi. Tapi di sisi lain, entah kenapa menjadi kepuasan tersendiri. Bisa memvalidasi diri sendiri bahwa aku sekuat itu loh.

Ingin balik lagi kesini suatu hari. Tapi ga mungkin. I just feel that I don't belong here, though I love being in here. 

Where do I belong? I don't know. I don't have any friends, or family. I just have my little family, who needs me. Padahal aku butuh orang. Aku penganut aliran habluminanas garis keras. I believe in human connection. in soulmate. Though I never find any.

Banyak banget yang pengen aku tulis lagi. Sejujurnya, ingin nulis lagi kaya dulu. 
Apakah menulis masih passionku? Aku percaya masih. Tapi gatau mulai darimana, nulis apa, harus ngapain. 

Kayanya aku udah gila.

Aku hanya berdoa semoga disana, aku dipertemukan sama yang baik2. Dijauhkan dari segala hal buruk. Dilancarkan. Dikuatkan. Aku sudah 7 tahun tidur, saatnya aku bangkit lagi..berjuang lebih keras lagi. Aku tau aku bisa karena, yah, inilah ambisiku selama ini..semua bisa kulalui sendirian!


Diaminin aja cukup.

Selasa, 08 Maret 2022

2022

di 2022 aku ingin:

1. Half Marathon
2. Pull Up Bar tanpa resistance band
3. Benerin form push up sampe bisa mentok
4. Nyobain Yoga
5. Lebih tegas dalam memilih sesuatu
6. Makin mengurangi gula dan gorengan
7. NONTON KONSER LAGI YAALLAHHHH BISA GA YA
8. Memutuskan untuk stay di bali atau ke jakarta lagi, hmm?
9. Baca buku lebih banyak
10. Cari sekolah kemi
11. Explore bali sampe ke pelosok

Minggu, 21 Februari 2021

Muasabah Diri

Pernah ga lo kena musibah tapi lo mendapati orang lain / masyarakat / netizen bukannya berempati malah "ngejudge" atau "nasehatin" atau malah nyinyir?

Gue rasa udah banyak banget kejadian gini. Orang-orang yang depresi setelah terkena musibah, menurut gue, bisa jadi ketambahan beban pikiran omongan orang setelah kena musibah tersebut.

Kalo lo di posisi orang yang terkena musibah itu,gimana coba perasaannya? Bukannya di support malah disalah-salahin. 

Gue rasa pelajaran "empati" itu perlu ditanamkan sejak dini. Karena, lihatlah masyarakat kita saat ini: krisis empati.

Gue bertanya-tanya terus, kenapa ya orang bukannya berempati malah nyalahin, ngejudge, bahkan nyinyir? Oh,mungkin karena mereka belum pernah merasakan musibah yang sama. Mungkin mereka harus ngerasain dulu kali ya?

Tapi gue rasa ada faktor dalam diri sendiri juga, mungkin sebelumnya kita sebagai manusia juga berlaku seperti itu?
Mungkin kita dijahatin orang karena kita juga pernah jahatin orang?

Seperti The Golden Rule of life "Treat Other The Way You Want to be Treated".

Sepertinya ini harus dijadikan muasabah kepada diri sendiri, mungkin letak kesalahannya adalah apa yang kita tanam selama ini menuaikan hasil yang kita terima saat ini. Tapi tenang, ini masih bisa diperbaiki kalau kita menanamnya kembali dengan baik.

Rabu, 10 Februari 2021

Please Wake Up

Suatu hari ada seseorang yang (secara ga langsung) komen kalau gue sarkas, terutama sama isu sensitif. Such as sandwich generation, nikah muda, endonesah without p4c4r4n, mamak ambisius dan lainnya. Gue bukan SJW, feminist atau sejenisnya, but I love being sarcastic.

Ini tahun 2021. Wake up! Mayoritas orang melek teknologi, atau setidaknya tau isu apa yang sedang viral. Sekarang banyak budaya asing yang masuk, sampai negara kita seakan-akan krisis identitas. Tapi kenapa masih banyak paradigma:

"cewek tu gausah sekolah tinggi, nanti lulus sekolah juga cari suami. Harus pintar masak, harus cantik biar suaminya betah"

atau

"gausah pacaran, langsung nikah aja biar ga ketuaan, biar ntr jarak sama anaknya ga jauh".

atau

"dia penampilannya gak agamis, pasti dia liberal, bukan orang soleh/solehah"

atau

"kamu seorang ibu tapi kerja? ga kasian anakmu? emang gaji suami ga cukup?"

atau

"lulus jadi pns aja, hidup terjamin. Jangan kerja di swasta, apalagi start up".

OH GOD. Please. Wake up. You're not living in jaman jahiliyah!

Hidup tuh cuma sekali. Lakukan aja apa yang lo mau. Lo terlahir cewek atau cowok udah takdir, jangan dijadikan penghambat mau ngelakuin apapun. Dengerin omongan nyinyir orang sekitar boleh, tapi ingat, ketika lo menjalani hidup yang mereka bilang, apa mereka akan bantuin lo? kan belum tentu.

Jadi, mau belajar bidang apapun, mau bisnis atau kerja atau jadi ibu rumah tangga, mau nikah atau nggak, mau punya anak banyak atau nggak, you are still awesome! Jangan menyamakan standar hidupmu dengan standar orang-orang, karena kita tidak sedang di area marathon. Kita lahir masing-masing, mati juga masing-masing. Kenapa harus hidup sesuai yang orang lain inginkan?

Selasa, 26 Januari 2021

Social Life at Work

Satu persatu rekan kerja gue yang mayoritas boomers udah pada "menghitung hari" menjelang masa pensiun. Gue sedih sih. Karena orang kantor sini pada baik banget, ga kaya waktu di Jakarta yang mostly bapak-bapak genit, rese, holier than thou, ato hobi julid. Orang disini mostly ramah, zen, santuy, sangat menghormati, toleran, dan yang penting ga pernah genit sama cewek!

Gue punya banyak temen seumuran, tapi beda lantai, beda gedung, dan beda unit. Karena pandemi, gue udah lama banget ga ketemu temen-temen seumuran gue ini, udah setaun lah. Dan mayoritas di 1 lantai tempat gue kerja isinya bapak2 boomers yang pensiunnya bergilir di 2021 ini

Gue inget banget, hari pertama gue kerja di Bali, gue yang dalam posisi hamil dan mabok, terbilang cukup semangat buat belajar hal baru. Jadi gue agak cerewet nanya kerjaan sama orang-orang sini. Tapi reaksi mereka malah "santai aja lah, ngopi dulu, gausah serius..masih banyak waktu buat belajar". Dengan santainya ngomong begitu dan serombongan di 1 ruangan pada turun ke kantin buat ngopi. Gue masih di ruangan dan belajar ngoding sampai pusing
Lama-lama gue paham... "do what romans do in rome", akhirnya gue ikut aja ritme mereka. Setiap jam 10 pagi gue ikut rombongan nongkrong di kantin. Jam maksi ikutan makan ke warung Bali yang banyak anjingnya. Kalo ada kerjalapangan, gue maksa ikut, meskipun kadang mereka ga ngebolehin karena gue hamil (so sweet kan? coba orang2 kantor Jakarta dulu, mana peduli).

Sekarang, setelah 2 tahun lebih gue berinteraksi sama orang2 Bali...I think they're the sweetest person in my 7 years of working! Waktu lahiran gue dijenguk, waktu cuti dan sakit gue ga pernah diganggu, kalau ngajak gue makan2 selalu toleransi "makan yang halal aja ya", setelah menjadi ibu gue dipersilahkan untuk banyak dirumah sama anak gue. Top banget lah pokoknya!
Gue ngerasa lingkungan ini terlalu "zona nyaman" bagi gue, which is bahaya bagi pribadi gue kalo terlalu nyaman. Takutnya ketika ketemu orang yang keras dikit gue langsung melempem.

Eh beneran...pas interaksi sama orang kantor regional, pusat, atau sama customer yang ritme kerjanya beda banget sama orang sini, gue agak kewalahan dan ngerasa "ga santai banget sih mereka". Ya gitulah, karena gue udah pernah dapet ritme yang hellish dan heavenish, gue jadi tau bedanya... pilih mana? ya yang heavenish lah wkwkwkw.

Anyway, kalau boomers ini pada pensiun, gue makin kesepian. Gue udah jarang berinteraksi sosial di kantor karena temen seumuran gue dikit, makin berkurang lagi deh temennya. Hiks. Beda sama di Jakarta dulu, banyak teman dan asik banget lingkungan pertemanannya sampai sahabatan gitu diluar kantor. Waktu gue ke bali, pada farewell sama gue sampe nangis2an. Pada nganter ke bandara macem adegan AADC aja. So sweet ga sih? Boleh ga gue bawa temen2 Jakarta gue ke Bali? hehehe.

Ya emang ada plus minusnya ya di setiap tempat ya. Beginilah dunia kerja, selalu dihadapkan sama 1001 halangan dan rintangan yang diluar kendali kita. Kalau gue tipe idealis, gue harusnya udah resign sejak lama buat cari karir di perusahaan multinasional. Ato gue ikut panggilan scholarship dan mengorbankan keluarga. Atau gue tetep kerja di Jakarta, ga minta pindah ke Bali pas nikah...yang meskipun ritme kerjanya hellish, ga punya kehidupan, bosnya rese, tapi kehidupan sosialnya ada. Tapi demi kebaikan gue dan keluarga gue, gue harus memilih work life balance. Meskipun gaada teman, tapi kerja lebih santai. Dan yang penting cuannya lancar. Yaiyalah budak korporat kaya gue..masih butuh duit buat bayar cicilan rumah, generasi sandwich, dan yang keranjang belanjaan shopeenya 99+ dari 2020 belum di check out juga di 2021 tapi bangga banget kalo bisa nabung buat dana darurat. Hahaha.

In short, I admit that I work for living, not living for work, ya ga sih?

Minggu, 24 Januari 2021

2021 Menuju Sehat

Setelah akhir taun mencoba olahraga sendiri tapi gitu2 aja, akhirnya awal tahun ini gue NEKAT daftar program PT di private gym. Meskipun setelah itu rekening gue meronta-ronta tapi gue yakin langkah yang gue ambil adalah kebaikan buat gue. Mungkin orang mager kaya gue harus dipaksa olahraga? Mungkin gue perlu bimbingan orang yang ahli, olahraga mana yang cocok buat gue? Mungkin gue juga perlu ke nutritionist untuk tau pola hidup sehat seperti apa yang gue jalankan?

Tempat Favorit saat Pandemi: Lapangan Renon

Mungkin terkesan lebay, buang duit, ato lagi ngetrend makanya ikut2an ya? Tidak sama sekali! Gue ngelakuin ini murni ingin sehat! Setelah punya anak tu baru berasa banget lho..masa umur belum kepala 3 tapi udah jompo dan gampang kena penyakit? Gue ga sadar selama ini, sampe akhirnya gue sakit (yang lumayan sering gue alamin), terus dokter bilang gini "Ibu kalau sering konsumsi antibiotik, kasian badan ibu, pertahanannya jadi kurang. Cuma olahraga dan makanan sehat yang bisa bikin badan ibu membaik". Astaga. Ketampar banget. Kemana aja gue selama ini? Gue baru sadar, jogging ala2 gue juga ga ngefek, karena gue banyakan magernya. Mungkin memang gue harus nekat, harus dipaksa, harus dikerasin biar gue mulai hidup sehat. 

Kuncinya hidup sehat sebenarnya cuma: Niat, Disiplin, dan Konsistensi. Yang penting sehat dulu, langsing adalah bonus. Bismillah gue mau sehat sampe tua!

Doakan gue ya. Mulainya februari nih. Kata PT gue "kenapa ga mulai sekarang (akhir januari) aja?" gue beralasan lagi dapet lah, lagi sibuk lah, blabla. Sebenarnya lagi bokek mas abis bayarin sampean...kan mau beli keperluan hidup sehatnya bisanya tunggu gajian dulu...masa harus kujelasin. Hahaha.

Rabu, 13 Januari 2021

Resolusi 2021

1. Menerapkan gaya hidup lebih sehat
2. Lebih rajin berolahraga
3. Lebih banyak bersedekah
4. Meneruskan konsep minimalism life
5. Lebih banyak menabung dan investasi
6. Menjadi lebih sabar 
7. Mengurangi waktu untuk sosial media
8. Belajar bahasa bali
9. Lebih banyak membaca
10. Lebih banyak menulis

Selasa, 24 November 2020

Perubahan Setelah Pandemi

Halo!
Ga kerasa ya udah di penghujung 2020. Di awal tahun terasa begitu lama, tapi ternyata di akhir tahun ini terheran-heran juga... kok bisa ya kita bertahan di kegilaan pandemi yang sudah melanda hampir 10 bulan ini?
Bagaimana, apakah lo tetap waras? Kalo gue sih alhamdulillah baik-baik aja, ga ada perubahan banyak...cuma mungkin agak krisis mental karena udah hampir 1 tahun ga liat gedung bertingkat dan transportasi umum lewat depan mata. Hahaha. I didn't mean it. Ngomongin mental jaman sekarang rawan diserang SJW.

Apapun yang terjadi saat pandemi ini, gue doakan semoga lo baik-baik aja ya, dan semoga perubahan yang terjadi menggiring lo ke arah yang lebih baik.

Menyambut kegabutan gue di senin pagi yang udah mulai rutin WFO ini, gue mau cerita sedikit tentang perubahan yang gue alami setelah pandemi:

1. Doyan Masak dan Makan
Awal-awal pandemi, tau sendiri kan betapa parnonya orang-orang (termasuk gue) buat beli makanan dari luar? Katanya sih virus covid19 bisa nempel juga di bungkusan makanan dari pesan antar. Lebay,tapi who knows? Di awal pandemi, gue kerepotan kalau pesan makanan dikit-dikit harus nyemprotin disinfektan ke pengantarnya. Sekaligus ngirit juga, karena jujur aja kelamaan dirumah bikin kepengen ngunyah ini itu. Apalagi orang rumah pernah positif covid, jadi gue memperbanyak asupan agar imun naik. Akhirnya, kalau mau makan cemilan mendingan bikin sendiri deh. So far masakan gue nggak jauh dari cemilan laper mata gue sebelum pandemi, random pula tergantung gue lagi kepengen apa. Saking random nya gue sampe bikin account cookpad dan gue positing disitu semua hasil karya gue. Enak ga? ya gitu lah, tujuan gue adalah mengisi waktu luang dan supaya ga laper mata aja sih. Gue udah cukup puas dengan hasil yang gue bikin, tanpa perlu beli piring cantik supaya hasil foto jd aesthetic.

2. Nonton K-drama
"Semua akan korea pada waktunya" ini berlaku banget buat gue! Di awal pandemi gue udah tahan-tahanin ga nonton korea, tapi waktu awal2 WFH kerasa banget nganggurnya pas jam kantor. Akhirnya gue memutuskan buat nonton Crash Landing on You dengan motif iseng sambil senyum senyum geli nontonnya. Kelar Cloy, lanjut Itaewon Class. Lanjut Hospital Playlist, World of Married Couple, dan banyak banget sampe sekarang gue lagi nonton Start Up dan Record of Youth. Awalnya denial, lama-lama keterusan. Dan kalau pintar memilih, ternyata banyak kok korean series yang worth watching. Meskipun genrenya kebanyakan drama macem sinetron ya, tapi setelah ada k-drama tsb gue bisa membuktikan kalau gue bisa juga nangis nonton film selain hachiko dan lion king. Top K-Dramas yang menurut gue worth watching dan sukses bikin gue mewek: The world of Married Couple (eps 16), Hospital Playlist (eps 4), Reply 1988 (eps 19), dan Start Up (eps 12). Terjuara sedihnya tetep Reply 1988 eps 19 sih, yang pas seluruh tetangga kumpul ngerayain ultah maknya jungpal & pensiunan bapaknya deok sun. Ga pernah gue nonton film senangis itu. 

3. Gemar Menabung
Pas awal pandemi gue masih punya kebiasaan kalap belanja online. Setiap hari, setiap saat ada aja yang di beli secara online. Di pertengahan pandemi gue berkesempatan ikut kelas financial ramean dan private dengan financial consultant. Dari situlah gue tau keuangan rumah tangga agak bocor, dan solusinya ada 2: mengurangi biaya atau menambah penghasilan. Sejak itu gue bertekad buat nabung sebanyak mungkin. Sebenarnya hasil dari konsultasi finansial gue belum ada financial goal dalam waktu dekat, tapi disitu gue merasa sebenar nya untuk menyehatkan perekonomian tu bukan nya menekan pengeluaran gue sampe seirit2nya, tapi beli sesuatu yang penting dan mendesak aja. Gue harus pikir 10x lah sebelum mau beli sesuatu. Jangan impulsive buying, dan jangan memutuskan untuk beli sesuatu secepat mungkin. Ya, gue akuin kelemahan gue selama ini adalah impulsive buying yang akhirnya membuat gue boros banget. Bayangin dong waktu gue single dan kerja di Jakarta, gue ga pernah bisa nabung dan ga punya aset apa2. Sekarang sudah ada kemajuan signifikan, alhamdulillah banget. Setiap bulan bisa nabung meskipun ada cicilan rumah dan pengeluaran lainnya.
Awalnya emang berat menahan diri untuk tidak online shopping, tapi ternyata ga ada yang bisa mengalahkan perasaan puas di akhir bulan kalo gue masih bisa sisihkan 20% dari pendapatan ke tabungan. Bahkan mengalahkan rasa puas ketika shopping abis gajian (yang akhirnya ga diapa2in juga).
Gue berterimakasih banget sama para financial consultan yang membimbing gue ke jalan yang benar.

4. Males keluar
Nah, karena udah kebiasa dirumah aja, lama-lama gue jadi males keluar. Sempet beberapa kali ke mall karena ada yang harus dibeli, tapi begitu sampai mall gaada vibes menyenangkan seperti sebelum pandemi. Gatau kenapa. Bisa karena udah kelamaan dirumah, atau karena gue udah kebiasa nabung dan beli barang yang penting aja. Wishlist gue pun ga semuanya gue turutin, setelah 10x dipikir ternyata gue cuma "laper mata" aja. Begitu pula keluar buat jalan2. Sering banget gue keluar rumah untuk jalan ke suatu tempat. Tapi sampai di tempatnya gue balik lagi, karena males aja liat keramaian.

5. Lebih Rajin Berolahraga
Ini sebenarnya gue lakuin belum lama ini. Gue berolahraga bukan karena pengen kurus, tapi gue kepengen sehat! Gue belum 30, anak masih 1, tapi rasanya udah jompo banget dan gampang sakit. Setelah gue perhatiin, gue emang jarang banget olahraga. Hampir ga pernah malah.
Akhirnya gue cobain rutin berolahraga, meskipun cuma jalan kaki, jogging, senam dikit-dikit (Oh ya, gue nggak sepedaan kok kaya yang orang2 lakuin selama pandemi wkwkwk). Ternyata setelah merutinkan diri buat berolahraga, or at least bergerak lah, gue banyak dapet manfaatnya buat badan gue. Gue merasa lebih seger kalo bangun pagi, gue gak gampang laper, dan tidur jadi lebih berkualitas. Kalo gampang sakit nggak nya gue belum bisa bilang karena gue olahraga masih 1 bulanan ini. Enak banget ternyata ya efeknya olahraga, kemana aja gue? duh.

6. Mulai Memakai Skincare
Sejak hamil gue jadi males banget ngerawat diri dan cium bau-bauan. Ternyata keterusan sampe menyusui, karena gue khawatir zat2 kimia ngaruh ke asi (padahal skin care dipake di kulit ya, bukan diminum wkwk). Setelah 2 tahunan berlalu, gue baru aja sadar: kok muka gue udah banyak kerut halusnya ya, kok muka gue kusam ya, dan lain-lain. Akhirnya gue mencoba lagi pakai skincare. Ga mau seribet dulu sebelum hamil yang pake skincare sampe 10 step. Gue cuma pakai 4 item aja: Cleanser (Sabun/micellar water), Sun Screen, Serum, pelembab (kadang2). Belinya pun di drug store aja, yang murmer dan gampang belinya. Gamau ribet lagi kaya dulu. Toh gue perhatiin dulu waktu single gue beli berbagai macam skincare muka gue juga masih aja jerawatan dan kusam. Malah mendingan sekarang, gue jerawatan cuma pas lagi dapet aja. Menurut gue sih kalau mau merawat kulit muka ga cuma dari skin care aja, tapi dari gaya hidup yang sehat (olahraga dan makan yang bergizi), less stressed, serta udara dan air yang baik. Dulu waktu di Jakarta kan polusinya gila banget, plus gue pulang malem terus, stress kerjaan pula. Pantesan kaya gitu kulitnya. Saat ini, setelah tinggal di Bali alhamdulillah jauh lebih baik.

Ya mungkin itu aja sih yang mau gue ceritain. Disamping sekarang tiap hari pakai masker kalau keluar rumah, bawa sanitizer dan tisu basah. Dan ga keluar rumah kalo ga perlu banget. Menghindari keramaian, dll lah standar nya protokol kesehatan. Gue juga nggak tau apakah dengan menerapkan dan tidak menerapkan protokol bisa membuat lo terhindar dari Covid19, tapi yang pasti mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati.

Stay safe ya, semuanya!


Kamis, 15 Oktober 2020

Why so Ambitious?

 



Halo!
Kalian pasti ga asing sama foto diatas. Yup. Dia adalah Emily Cooper dari series originalnya Netflix "Emily In Paris" yang diperankan oleh Lily Collins. Nah series ini lagi booming banget ditonton sama banyak orang di tengah pandemi ini dengan mengundang pro dan kontra. Ada yang bilang suka banget karena ini series nya ringan tapi nggak cheesy, ada juga yang nyinyirin series ini trying hard to look like Sex and The City - Gossip Girl.

Tapi gue yakin para pro cons akan bersatu kalo liat Gabriel yang buka pintu pas Emily salah masuk kamar.


Emily in Paris menceritakan tentang Emily Cooper, cewek Amerika yang dikirim ke Perancis untuk membantu kantor cabang Paris meningkatkan penjualannya. Sampai di Paris, ternyata hidup di Paris tu ga sesuai bayangan Emily. Dia ga disukain di kantor, karena budaya kerja di Perancis dan Amerika tuh beda banget. Emily heran, kenapa orang-orang di Paris tu woles banget: masuk kantor telat, makan siang cepet, dan gak ambisius buat mencapai lebih dari target. Menurut orang Paris mereka dalam bekerja itu "Work to live", sedangkan Emily adalah "Live to work".

Nah, gue ga akan bahas banyak tentang Emily in Paris. Tapi gue mau mengorelasikan di kehidupan kantor gue: Gue punya temen yang ämbisius nya separah Emily Cooper, padahal doi berada di tengah-tengah orang Perancis.

Sebut saja Mawar ya.
Bukan, dia bukan jualan bakso boraks.

Si mawar ini lulusan universitas yang top. Lulus pun dengan IP tertinggi. Doi merantau jauh untuk kuliah dan kerja. Untuk kebanyakan cewe single pasti mereka udah ketar ketir karena hidup jauh dari rumah dan dari jodoh. Mungkin dia juga takut, tapi dia sepertinya lebih takut nggak promosi tepat waktu. Secara personal sebenarnya dia menyenangkan untuk dijadikan teman. Tapi kalo kerja bareng, gue nggak recommended. Karena dia akan baper kalau nggak dinilai terbaik dari bos dan rekan kerjanya. Dia tipe orang yang bangga kalau dia kerja sampai pagi, kerja nya di kantor pula, dan ga ada yang nemenin. Dan, pastinya, dia akan nyinyirin orang yang kebalikannya dia. Mungkin gue termasuk yang dinyinyirin. Pastinya, dia mengorbankan urusan personal demi urusan kerjaan, termasuk ngeremove orang yang ga berguna bagi karir nya dia.

Gue nggak cocok sama dia karena... ibarat di series Emily in Paris, gue adalah orang kantor di Paris nya. Bukannya gue ngga suka kerja, tapi..kenapa harus se ambisius itu? Kebetulan, gue lebih cocok kerja sama orang-orang yang nggak pinter tapi berhati baik. Karena ilmu itu bisa dipelajari, dan berganti-ganti. Sedangkan cari orang yang berhati bersih itu susah banget...apalagi sejak kerja. Menurut gue, rejeki itu ngga cuma dari gaji bulanan kok.
Buat gue, bisa menikmati waktu tanpa disela kerjaan itu udah rejeki juga.
Kalau lo udah mencapai yang diatas, lo mau apa? Mati pun lo akan dikubur barengan sama yang bukan pejabat.

Jadi sampai sekarang gue ngga paham apa konsep dari ambisius. Doa gue daridulu selalu: Yaallah jauhkanlah aku dari orang-orang ambisius di kantor.

Eh, ya mungkin, itulah kenapa gue dijauhin sama si Bunga ini. Hahaha.

Rabu, 30 September 2020

Menjaga Imun Tubuh di Tengah Pandemi

Halo!
Ga terasa ya kita sudah 8 bulan berkawan dengan pandemi.
Udah melewati fase panic buying, lebaran di rumah aja, new normal setelah lebaran, kasus melonjak drastis efek cluster long weekend, petugas kesehatan pada tumbang, kenalan satu persatupun tumbang juga, pemakaman yang udah mulai full, sampai sekarang ini liat fenomena pemerintah di berbagai negara mundur dari jabatannya yang seakan-akan sudah ga ada titik terang bagi kita.

Gue udah 8 bulan wfh, ga keluar ke tempat umum. Prefer belanja online daripada offline. Ga pulang kampung. Ga pernah ketemu keluarga. Ga pernah nongkrong sama teman-teman. Ga jalan-jalan. Ga senang-senang.

Sampe gue kepikiran, apakah kita sedang berada di seleksi alam?
Ataukah kita sedang ada di film avengers endgame?

---

Kebetulan gue sendiri pernah mengalami 1 rumah dengan positif covid19 OTG. Berawal dari keisengan rapid test mandiri yang hasilnya beda-beda, akhirnya suami gue memutuskan untuk swab di rumah sakit. Ternyata hasilnya positif! Malam itu kami zonk banget, karena kami merasa sehat walafiat dan sebelum hasil tes keluar, kami bertiga masih kumpul normal.
Setelah gue swab besokannya, ternyata gue hasilnya negatif. Aneh juga ya?

Untungnya suami gue masih bisa isolasi mandiri. Waktu itu rumah sakit rujukan covid agak memaksa untuk isolasi di RS (mungkin waktu itu masih sepi ya RS nya, ga kaya sekarang udah full). Tapi kami bersikeras untuk isolasi di rumah aja.
Alhamdulillah 3 minggu kemudian sudah negatif hasil swab nya.
Agak melegakan karena virus itu sudah hilang, meskipun tidak ada yang bisa menjamin 100% hilang.
Kami bersyukur bisa mendeteksi secara dini, karena kalau waktu itu misalnya kami tidak iseng swab, gimana kalau sebagai OTG menulari orang lain yang imun nya tidak kuat?

Pemandangan Waktu Gue Swab



Gue mau sharing tentang apa kami lakukan untuk menjaga imun kami agar tetap kuat disaat suami gue positif covid19:

1. Jaga Pikiran
Langkah pertama yang kami lakukan adalah: jangan panik, jangan sedih, jangan mikir yang aneh-aneh. Orang-orang bilang supaya imun naik harus hepi terus kan? Well, happiness is a state of mind.

2. Konsumsi Makanan Bergizi yang BANYAK
Sampai hasil tes negatif, kami tidak makan gorengan, micin, makanan/minuman yang banyak gula, dan makan makanan yang pedas. Karena kami percaya makanan tersebut termasuk makanan jahat yang tidak membantu menaikkan imun. Kami juga menambah frekuensi makan kami; yang normalnya 3x sehari jadi 6-7x sehari:
- 05.30 Bangun tidur kami makan telur rebus dan bubur kacang hijau (dengan gula merah, tanpa santan)
- 07.30 Sarapan masakan rumah: nasi, lauk, sayur, buah. Setelah sarapan kami mengonsumsi 1 SDM Madu murni dan vitamin. Gue minum imboost force dan becom-c. Suami gue minum vitamin yang diresepin dokter rumah sakit rujukan.
- 10.00 Ngemil makanan semi berat misalnya: siomay, bubur ayam, bakso.
- 12.00 Makan siang dengan menu yang sama dengan sarapan.
- 15.00 Ngemil makanan yang semi berat
- 18.00 Makan malam sama dengan menu pagi dan suang
- 20.00 Ngemil makanan semi ringan, contohnya: salad buah, jus. (Kadang gue skip kalau udah ngantuk)
Selama 2 minggu menerapkan ini kami merasa gendutan. Tapi demi kesehatan tetap kami lakukan.

3. Begadang Jangan Begadang!
Kami selalu tidur sebelum jam 22.00. Kalaupun kami sudah tidur siang, malamnya kami tetap tidur dibawah jam 12. Sesekali kami menyalakan diffuser aroma lavender agar kualitas tidur terjaga.

4. Gelonggongan Air Putih
Ini wajib banget hukumnya, mau lagi sakit mau nggak...air putih tu harus minimal 8 gelas sehari! Pas lagi positif kami ga konsumsi minuman berasa dulu, cukup air putih aja yang super duper banyak. Kalo bisa sampe bolak balik kamar mandi.

5. Hindari Stress dan Kecapean
Kalau ada pekerjaan yang membuat pusing, mendingan tinggalin dulu. Ga banyak scroll sosmed untuk kepo hal gak penting yang bikin mikir aneh-aneh (kaya cerita pasien covid yang berakhir tragis). Hindari kontak-kontakan sama orang yang toxic.

6. Sering Bebersih
Mandi, cuci tangan, pake disinfektan? Hukumnya wajib. Plus sering bersih-bersih ruangan: ganti sprei tempat tidur tiap hari, sedot debu, lap gagang pintu..tangga..dll yang sering dipegang.

7. Jalan Kaki dan Berjemur
Karena gue jarang olahraga, gue ngga mungkin kan tiba-tiba olahraga berat. Gue dan suami juga nggak mungkin keluar rumah. Jadi di pagi hari sebelum komplek rame, kami jalan-jalan muter komplek. Pake masker, pastinya. Untungnya komplek rumah sepi banget, jadi kami tidak kontak dengan siapapun.
Jam 11an kami ke halaman rumah untuk berjemur mendapatkan sinar matahari. Kira-kira durasi berjemurnya 15menitan lah.

8. Banyak Berdoa
Ya, pada akhirnya Tuhan lah yang menentukan kesehatan umatNya. Jadi mau lo berupaya sekuat tenaga, tetap hasil akhirnya Tuhan lah yang menentukan. Banyak berdoa semoga kita dan orang disekeliling kita sehat selalu.

---

Karena meskipun stay dirumah aja juga ga menjamin bebas dari covid19 seperti kami, jadi memang anggap aja semua orang akan corona (dan korea) pada waktunya. Tapi memang sebaiknya jaga jarak dengan orang lain, karena siapa yang akan tahu kalau ternyata lo OTG? (kecuali lo kaya terus lo swab setiap hari dan menjamin 100% lo negatif).
Kalau kami sih.. tetap stay di rumah, ga pulang kampung ketemu ortu/sodara dulu, ga nongkrong dulu, dan tetap jaga jarak sama orang2... Karena itulah yang terbaik, gamau lagi kena dan gamau juga nularin orang.


Jaga Kesehatan ya! Semoga kita semua terhindar dari covid19 dan antek2nya.

Kamis, 24 September 2020

Tips Membeli Rumah Pertama Untuk Newbie

Hai!
Akhirnya gue punya waktu luang lagi setelah sibuk pindahan ke rumah baru. Selama gue tinggal di Bali gue udah 3x pindah, dan Insya Allah di rumah sekarang ini gue bisa menetap lebih lama. Kecuali kami pindah ke kota lain.

Gue mau berbagi pengalaman untuk orang awam diluar sana yang niat beli rumah, supaya bisa berjodoh dengan rumah yang dicari.
Sebelum beli rumah ini juga keadaan gue sama: awam, clueless, bahkan pernah kena tipu.
Hih. Jangan sampai terjadi ke orang lain ya.

Jadi mari kita mulai...

1. Educate Yourself First.
Gue sedikit menyesali gue ngga belajar dulu tentang ilmu jual beli rumah sebelum membelinya. Gue termasuk orang yang bondo nekat: cari dan beli aja. Ga mikir A to Z nya, dan learning by doing. Gue banyak ditolong sama kakak gue yang kebetulan notaris, itupun gue masih ga paham juga. Setelah berhasil terbeli baru lah gue ngerti. Pantesan aja gue pernah ketipu ya.
Jadi pastikan lo paham hukum ya, karena beli rumah tu akan ngeluarin uang yang ga sedikit. Jadi jangan sampai lo ketipu gara-gara lo nggak tau. Belajar dulu dan banyak tanya ke orang yang berpengalaman.

2. Tentukan Budget untuk Beli Rumah
Sebelum lo menentukan lo mau beli rumah, lo harus tentukan dulu berapa budget lo untuk beli rumah? Lo mau beli rumah pakai sistem apa? cash keras? cash sebagian-KTA? atau full KPR? Pastinya lo harus cari tau dulu sistem mana yang cocok dengan kondisi finansial lo. Kalo perlu lo konsultasi dulu ke ahlinya, agar tidak salah langkah.
Jangan tanya ya dapat duit nya darimana buat beli rumah... ya nabung lah, masa ngepet? 
Realistis aja sih. Kalo lo ngga dapat suntikan dana dari orang lain, ngga mungkin lo bisa beli rumah dalam waktu singkat. Minimal nabung dulu lah berapa tahun.

3. Tentukan Prioritas
Lo harus tau proritas lo: mau beli rumah yang kaya gimana? 
Yang sesuai kantong? tanahnya luas? rumahnya bagus? lingkungan nya enak? Strategis dekat mana-mana? Jangan harap bisa dapat semua aspek tsb ya.. karena itu nihil. Kecuali lo tinggal di pelosok.
Lo tetep harus pilih prioritasnya lo dan ambil resiko kalau lo pilih prioritas tsb.
Misalnya lo cari yang strategis dan tanah luas. Ya siap-siap aja harganya mahal. Ato lo cari yang murah banget? dapetnya yang jauh dan tanahnya kecil.

4. Survey, Survey, Survey
Waktu fase gue hunting rumah, tiap hari gue berkawan dengan website search engine untuk property. Gue pantengin aja tu pelan-pelan tapi sering. Kalau ada yang cocok gue hubungi marketingnya dan gue datengin rumahnya. Karena gue sering survey, gue jadi sering ketemu dengan makelar. Kadang makelar juga ngasih info rumah diluar dari websitenya. Kalau ada yang cocok, gue datengin lagi. Gitu aja terus sampe nemu yang cocok dengan keinginan. 

5. Jangan Buru-Buru
Kalau lo nemu rumah yang cocok banget dengan keinginan lo, jangan langsung putusin buat nge DP dulu. Bener-bener lo pikirin deh, apakah itu yang terbaik dari yang terbaik? Kalo bisa survey lagi ke lingkungan sekitar, cari tau seluk beluk penjual apakah mereka memiliki track record yang baik, atau jangan-jangan pernah nipu? Kalaupun lo didesak sama "hari ini terakhir bayar DP ya, besok udah nggak bisa" dan lo mau ga mau harus bayar saat itu... ya lo harus siapin mental kalo amit-amit DP nya ilang ya. Soalnya waktu gue ketipu juga kaya gini ceritanya, gue terburu-buru bayar DP. Ternyata developernya kang tepuuuuu.

6. Carilah Sesuai Apa yang Dibutuhkan, Bukan Diinginkan
Karena sekarang generasi digital, jadi dalam membeli rumah tu banyak juga yang terinfluence oleh orang lain di sosial media yang belum tentu kondisi nya sama dengan kita, tapi tetap kita paksakan supaya bisa saingan sama mereka. Padahal yang ditunjukkan di sosmed itu yang baik-baik nya aja, dibalik itu kita juga gatau semenderita apa hidup mereka. Gue pernah liat di account home decor yang rumahnya bagus banget. Si owner nya curhat saat bangun tu rumah mereka sempet hampir ga jadi bangun rumahnya karena ga punya uang dan dikejar rentenir.
Kalau gue pribadi sih, ngapain kaya gitu ya. Mendingan kita beli yang sesuai kemampuan kita aja lah ya, ga usah ngoyoh, gausah kebelet pengen pamer. Pada akhirnya lo juga yang ngerasain bayar cicilannya berat. Follower instagram lo ga akan tau lo menderita. Terus lo pilih lo bangun rumah mewah tapi lo ga bisa makan sehari-harinya? Lucu sih.

7. Siap-siap Keluar Duit Banyak
Ketika lo udah beli rumah, kondisi keuangan lo akan berubah drastis. Harga rumah aja udah mahal ya, belum bayar pajaknya. Belum bayar notaris. Belum harus renov. Belum ngisi interior rumahnya yang konon lebih mahal dari rumahnya.
Jangan kaget ya kalo tiba-tiba berasa jatuh miskin. Kalo kata account finansial online yang mahal bukan biaya tu bukan biaya hidup, tapi lifestyle. Tapi inget, rejeki ga kemana kok. Siapatau rumah lo ini juga mendatangkan rejeki lain.

8. Pada Akhirnya...Rumah = Jodoh
Sebelum gue berhasil melakukan transaksi jual beli rumah, banyak orang yang bilang "rumah tu jodoh2an". Ternyata bener banget.
Mau segigih apapun usaha lo mencari rumah, mau setinggi apapun cita-cita lo punya rumah, pada akhirnya cari rumah tu sama aja dengan cari jodoh. Ada yang baru lulus udah bisa beli rumah. Ada yang udah kerja sampe belasan tahun baru bisa beli rumah. Ada yang cari rumah dapetnya cepet, ada yang dapetnya lama. Ada yang dapetnya waw banget tapi horror, ada yang dapetnya sederhana tapi homey. Tiap orang beda-beda perjalanannya, ga bisa disamaian. Kalo denger mulut2 yang nyinyir "ih kok si A udah punya rumah kalo lo belum?" atau "kok si B rumah nya bagus lo rumahnya jelek?" kasih tau aja ke mereka: PUNYA RUMAH TU BUKAN KOMPETISI WOY. 
Yakinlah yang lo punya saat ini itu pasti yang terbaik yang Tuhan kasih buat lo.
Dan yakinlah lo bisa mencapai cita-cita lo (dalam membeli rumah) di waktu yang terbaik Tuhan kasih buat lo.

---

FYI untuk mendapatkan rumah yang saat ini gue tinggalin, gue dan pasangan melewati fase menabung selama 6 tahun kerja. Juga melewati fase hunting rumah selama 1.5 tahun. Pernah DP rumah baru tapi kena tipu developer saat rumahnya udah 90% jadi. Pernah masuk kantor polisi dan diperas untuk lunasin rumah itu tapi kami ikhlaskan untuk hilang saja. Lalu kami memulai perjalanan hunting lagi dari awal dengan ekstra hati-hati. Beberapa bulan kemudian kami mau agak 'ngoyoh' beli rumah dengan harga diatas budget, tapi ternyata tiba-tiba ada makelar yang ngasih info rumah second dijual murah karena kepepet mau dilelang. Dari perjalanan panjang melewati halangan dan rintangan yang melelahkan itu kami malah diberi rejeki dapat rumah yang sesuai keinginan kami dengan harga corona (40% turun dari pasaran). Seberat apapun yang telah kami lalui menuntun ke kemudahan yang kami dapatkan hari ini. Kami sangat bersyukur.

Gue doain yaa buat yang lagi cari rumah, semoga dapat yang terbaik! Selamat hunting!

Rabu, 23 September 2020

Dear Bridezilla...

Hai lagi.
Di hari kerja-dari-rumah yang lagi santai ini, gue mau cerita sedikit tentang pernikahan gue di tahun 2018.
Gue awalnya nggak berniat buat cerita ini, karena mengingat tahun 2018 merupakan tahun yang cukup menantang buat gue.

Tapi nggak kerasa tiba-tiba gue udah berumur 20an akhir aja, dan kayanya gue harus bernostalgia kembali ke momen penting dalam hidup, yang salah satunya adalah pernikahan.

Untuk kasih review, kayaknya terlalu basi karena gue nikah udah 2 tahun yang lalu. Harga, trend, dan service pasti udah berubah. Nah, mungkin gue bisa kasih tips sedikit buat yang berencana untuk menikah dalam waktu dekat, dan yang berada di fase bridezilla:


1. Sudah Siap Kah?
Karena kebanyakan dicekokin film romantis, orang-orang yang belum menikah kebanyakan punya pikiran: Nikah itu happy ending, Nikah itu bahagia, Nikah itu solusi dari permasalahan krisis seperempat abad.
Padahal, nikah itu adalah tantangan yang berat. Ribet. A neverending process. Dan tiap orang beda-beda ceritanya, ga bisa disamakan.
Makanya, sebelum memutuskan untuk menikah, pikirkan dulu dalam hati: Apakah gue udah siap untuk melepas status lajang gue? apakah gue udah siap untuk menjadi istri/suami seseorang? apakah gue udah siap punya keluarga baru? apakah gue udah siap menggeser kepentingan pribadi demi kepentingan bersama?
Saran gue sih ikutin kelas pra nikah, cari tau kehidupan habis menikah tu ngapain aja ya? Tanggung jawab kita apa aja?
Tentunya cari tau dari ahlinya ya, jangan dari selebgram atau dari teman.
Oh ya kesiapan bukan cuma mental aja ya, tapi fisik, finansial, mental, dan tetek bengeknya lho.

2. Plan Before Do
Sebelum memulai semuanya, bikin planning dulu dengan pasangan. Sesuatu yang direncanakan aja ditengah jalan bisa ga berjalan mulus, apalagi yang ga direncanakan?
Merencanakan pernikahan bisa dimulai dengan diskusi bersama pasangan terkait seperti apa sih pernikahan yang diinginkan?
Setelah didiskusikan, lo dan pasangan bisa membuat list item pernikahan yang diinginkan secara detail yang sudah dilengkapi nama vendor dan harganya.
Membuat planning pernikahan ga gampang dan ga bisa sehari. Itulah kenapa jasa wedding planner banyak beredar. Kalau lo punya budget lebih dan ga mau ribet mikirin sendiri, lo bisa banget tuh pakai jasa wedding planner. Percayalah, harganya ga seberapa dibandingkan ribetnya lo ngurus pretelan sendirian.

3. Survey dan Datang ke Wedding Expo
Ketika lo udah menjadi calon manten, hari-hari lo akan dihantui oleh mikirin semua pretelan pernikahan pernikahan yang bikin lo sampe lupa kalo lo masih hidup di bumi. Supaya otak ga meledak karena mikirin banyak hal dalam satu waktu, lo bisa melakukan survey vendor di Wedding Expo. Manisnya mulut tim marketing berkata kalau lo bisa booking vendor dari jauh-jauh hari, apalagi saat berada di expo, lo bisa mendapatkan diskon dan gimmick menarik. Buka mata, telinga, dan cari informasi dengan jeli untuk wedding expo mana yang akan digelar. Dateng nya jangan sendirian ya. Kalau bisa ajak pasangan dan orang tua. Inget, nikah tu bukan lo yang punya acara, tapi lo pasangan plus kedua keluarga.

Entah kostum keberapa yang gue cobain


4. Tentukan Vendor yang Diinginkan
Kalau sudah membuat wedding plan list dan sudah survey sampe muak, tentukanlah pilihan vendor yang lo inginkan. Tentunya sudah melewati filter pasangan, dan orang tua. Untuk menentukan vendor mana yang terbaik, jangan lupa cari reviewnya...apakah sudah sesuai dengan keinginan? apakah harga dan layanannya sudah sesuai?
Untuk vendor besar, seperti gedung, catering, dekor, hukumnya WAJIB datang ke kantornya dan lihat pernikahan orang lain yang mereka support. Perhatikan keberlangsungan acara dari sebelum dimulai sampai selesai. Tapi jangan ngerusak acara ya. Jangan malu-maluin juga ngincipin semua buffetnya. Ingat, lo bukan tamu....lo cuma numpang lihat aja.
Pastikan kalian udah bayar mahal dan mendapat jasa yang terbaik serta terpercaya. Demi menghindari vendor yang bodong.

5. Siapkan Budget Ekstra
Yang bilang nikah itu murah...bullshit sih. Kecuali lo nikah di KUA + di hari kerja +pake baju biasa kaya lo mau keluar rumah + ga pake ngundang orang. Nyatanya kan lebih banyak orang yang ingin punya pesta meriah karena katanya pernikahan itu katanya cuma sekali seumur hidup. Jadi emang lo tu harus siap budget yang besar banget. Kalo misal di awal lo udah planning-in budget lo 100 juta, lo harus siap duit lebih, misalnya sampai 150juta. Karena ga ada yang tau ditengah proses menjadi manten itu ada item apa diluar planning yang harus lo keluarin. Ga ada yang bisa menjamin sih, tapi daripada uangnya kurang..ya kan? Amit-amit deh kalau sampe ngutang.


6. Pertahankan Kesehatan Fisik dan Mental
Nikah itu banyak banget cobaan dan godaannya yang tiap hari adaaaa aja menguras pikiran. Ga banyak juga calon manten yang sampe "ambruk" karena stress dan capek mikirin pernikahan. Pengalaman pribadi, h-2 bulan gue kena GERD sampai harus dioperasi. Kalau gue telusurin, waktu itu gue lagi capek fisik dan mental banget: Tiap hari pulang malem (PP Jaksel-Bekasi naik angkutan umum, kadang keluar kota sampai ke Serang/Bogor), kerjaan juga lagi hell banget, suka makan makanan yang ga sehat, udah gitu weekend full ngurusin nikahan (karena gue sendirian, ga ada yang bantu). Pantesan tumbang kan. Nah ini jangan sampai terjadi dengan lo atau pasangan lo.
Rajin lah berolahraga, makan makanan yang sehat, istirahat yang cukup, dan kalau merasa pikiran lelah...mintalah bantuan orang lain. Kalau lo ngoyoh-ngoyoh juga nanti di hari H orang pada kaget liat zombie naik pelaminan.

7. Menjelang hari H: Pasrah Aja Lah.
Banyak juga calon pengantin yang masih sibuk, padahal sudah ambil cuti menjelang hari H.
Bahkan H-1 masih ikutan lihat loading barang. Haduh. Kalau udah ambil cuti, gue saranin lo puas-puasin nyenengin diri lo deh. Bikinlah bachelor party buat diri sendiri. Kapan lagi lo bisa nikmatin "me time" lo dengan status single sepuasnya. Urusan nikahan? Pasrah aja lah, ga mungkin juga bisa mengubah sikon kalo udah detik-detik menjelang hari H gitu. Tinggal berdoa, pasrah, dan berserah diri kepada Yang Diatas kalau acara lo bakalan lancar. Dan kalopun ada yang terjadi diluar dugaan lo, the show still must go on.

8. Saat hari H: Berbahagialah!
Inilah momen lo! Hanya di hari ini lah semua orang kumpul liat lo dipajang di pelaminan. Buang segala aura negatif yang menimpa lo sebagai bridezilla, karena ini waktunya buat berbahagia! Apapun yang terjadi sebelum/saat itu, jangan terlalu dipikirin ya. Jalani dan hadapi dengan senyuman lebar.



Minggu, 19 Juli 2020

You're So Dead To Me Phase in Life.

Hai, gue pernah cerita tentang trust issue gue ke orang lain yang membuat gue (hampir) nggak punya teman dekat.

Dan barusan angka orang yang gue black list dari list orang kepercayaan gue bertambah lagi. 
Ada perasaan terkhianati, karena orang tersebut merupaka orang terdekat gue yang selama ini gue bener-bener percaya.
Perasaan terkhianati itu terdiri dari rasa marah, sedih, benci, dan denial.
Gue nggak akan menunjukkan perasaan itu semua didepan orang lain, tapi bagi gue lo tuh sudah mati. Locuma ada raganya, tapi tidak ada jiwanya. Bagi gue lo tuh seperti zombie, yang kalau gue deketin percuma...gue akan lo makan. Mendingan gue lari jauh dari lo.
Selamat datang di fase "you're so dead to me". 


Sebenarnya gue akan menjadi pihak yang merugi, kalau gue kehilangan banyak orang karena gue nggak mau berpura-pura kalau nggak ada masalah sama mereka. Supaya tidak ada masalah apa-apa, lo harus mengambil hati gue lagi. Tapi, sorry, NGGAK BISA. Ini bukan perasaan dendam, tapi lebih ke: "cukup tau, and I'm done with you".

Senin, 13 Juli 2020

Sekarang Kita Bersyukur Tentang Hari Ini. Jangan Nanti.

Dari semua keluh kesah, umpatan, aura negatif yang gue utarakan, itu sebenar nya gue mau menyampaikan bahwa gue itu cuma manusia. Gue punya kekurangan, gue punya sisi gelap, dan gue nggak bisa sempurna seperti yang orang mau. Itu semua adalah penyaluran emosi gue, mengingat gue juga belum konsultasi ke pihak yang berwenang.

Tapi kalau boleh menarik kesimpulan, selama ini gue baik-baik saja. Tidak ada kekurangan, karena yang gue punya lebih dari cukup. Gue bisa aja membanggakan pencaiapan, atau harta yang gue punya. Tapi buat apa? Itu semua hanyalah kebahagiaan yang sesaat, tidak abadi.

Gue mau menebarkan aura positif hari ini. 
Gue nggak mau lupa hari ini gue bersyukur karena:
1. Gue punya atasan kerja yang sangat baik, mempersilahkan gue kerja dari rumah (wfh) selama 5 bulan berada di kondisi pandemi, disaat teman-teman gue sudah mulai kerja di kantor.
Terkadang gue jenuh juga dirumah aja. Gue pengen bersosialisasi dan hidup normal lagi sebelum pandemi melanda. Tapi mengingat angka kematian covid yang semakin tinggi, gue punya anak batita, dan gue punya motivasi baru "less wasted" dalam hidup gue, gue semakin bersyukur atasan gue mempekerjakan gue dirumah. Terima kasih pak.

2. Keluarga kecil gue pernah terkena musibah di bidang property. Kami kehilangan uang yang cukup banyak nominalnya, padahal itu jerih payah kami menabung selama bertahun-tahun kerja. Kami pun hampir tertipu untuk yang kedua kalinya, ketika kami diperas oleh ognum pengacara beberapa bulan setelah musibah menimpa. Akhirnya kami ikhlaskan property kami, uang kami hilang begitu saja.
Ternyata hari ini kami mendapat kabar baik, property tersebut dijual ke kami dengan harga yang turun drastis. Selain, kami juga sudah membeli property lain yang letaknya strategis, tanahnya luas dan spesialnya adalah dijual dengan harga "corona". Gue nggak tau harus bagaimana, gue bersyukur banget Allah memberi jalan ini ke keluarga kami. Kami diberikan ujian yang cukup berat, namun kami dituntun ke jalan yang terbaik. Dan kalau bukan karena musibah ini, mungkin kami tidak akan punya pengalaman berharga yang belum tentu setiap orang bisa dapatkan. Terima kasih, Allah. Terima kasih juga untuk teman hidupku, karena telah mengajarkan kesabaran, keikhlasan dan berfikir jernih dikala suasana yang keruh.

3. Gue mulai berkata "tidak" terhadap hal-hal yang membuat gue bimbang selama 28 tahun hidup. Nggak tau benar atau salah, tapi dari kecil gue selalu diajarkan untuk memperhatikan orang secara berlebihan, bahkan orang yang tidak gue kenal sekalipun. Memang banyak untung nya, tapi banyak ruginya juga setelah gue evaluasi. Tapi di usia seperti ini, gue mau meninimalisir kerugian yang menghantui gue bertahun-tahun. Gue ga mau cerita detailnya tentang ini, karena akan membuka luka yang perlahan tambalan nya sudah mulai kuat. Lucunya, gue terinspirasi dari drama korea yang lagi tayang dengan inisial IOTBNO. Diceritakanlah tentang seseorang dengan gangguan kepribadian bisa melepaskan trauma masa lalunya yang menghantui selama ini. Oke, gue juga harus seperti itu. Gue harus seperti si "anjing musim semi" yang berhasil melepaskan ikatannya dan berlari di kebun bunga musim semi. Terima kasih, Jo Yong dkk, dan Netflix.

Mungkin hanya 3 hal, tapi itu semua sangat berarti bagi kehidupan gue sekarang.
Pencapaian gue dalam hidup, harta gue, jabatan gue di kantor, makanan enak, apapun yang bisa gue banggakan, bahkan nonton gigs pun nggak bisa membuat gue bahagia kalau tidak ada 3 hal tersebut diatas....dan hal-hal lainnya yang nggak bisa gue sebutkan satu-satu. Karena pada dasarnya kita diberikan kehidupan yang layak aja harusnya sudah bisa disyukuri.
Kita bisa berjuang hidup sampai hari ini juga harusnya patut disyukuri.

Jadi ayo kita ucapkan sama-sama:

Terima kasih ya Allah, Tuhan Semesta Alam.
Terima kasih, pihak-pihak yang terlibat.
Terima kasih, diriku sendiri...

Rabu, 08 Juli 2020

Bantal Keras

Gue merasa kecerdasan emosional gue agak rendah. Entah karena gue cancer banget lah, karena gue melankolis lah, atau karena emang gue punya background psikologis masa remaja yang kurang baik. Gue nggak bilang gue punya isu kesehatan mental, tapi setelah gue pikir-pikir normal nggak sih kalau dikit dikit tuh emosi?
Normal nggak sih jadi pribadi yang detail banget? yang segala sesuatunya ingin berjalan sesuai kehendak, dan kalau ga sesuai bisa kecewa berat dan emosi?
Plis bilang itu normal. Normal disaat keadaan hati lagi baik-baik aja. Tetap normal, walau bukan lagi kondisi hormonal melanda. Tetap normal meskipun lagi ga stress.
Nah gimana kalau lagi stress / menstruasi / hati lagi kalut terus lagi kecewa berat juga? Wah bisa parah sih, nyerang pikiran banget. Efeknya adalah gue sulit tidur, jerawatan, overeating, dan impulsive buying (udah ngurangin sih). Kalo itu dilakuin terus lama-lama asam lambung gue kumat. Ya, gue pernah sampe endoskopi karena asam lambung gue naik terus, dengan penyebab utama stress.

Alhamdulillah sekarang udah jauh berkurang, karena hidup gue udah enakan. Tekanan berkurang, dan karena gue udah jadi orang tua juga sih jadi kedewasaan bertambah.

Tapi kadang hal itu masih muncul lagi.

It's just... gue tu nggak bisa toleransi sama hal yang menurut gue ga semestinya begitu. Gue harus menjalankan apapun berdasarkan perencanaan matang gue. Gue ga bisa ngeliat sesuatu tertunda, padahal itu bisa dilakuin/dikerjain. Kalo itu semua melenceng dari kehendak gue, gue bisa stress.

Gue sih udah merasa agak banyak berubah, jadi lebih sabar, lebih fleksibel, lebih memahami, pasrah dan banyak-banyak toleransi. Tapi lama-lama gue merasa kok gue ga happy ya dengan gue jadi seperti itu terus?
Emang ga boleh ya keinginan gue diturutin?
Gue menoleransi itu semua, tapi gue tetep GEMES dan berharap di realita gue kepengen hal berjalan seperti kemauan gue.
Kok lama-lama jadi pembunuhan karakter gini ya?

Ibarat bantal keras(-nya sore), tujuan gue mengontrol diri gue adalah agar gue bisa melunak... seperti bantal, bisa bermanfaat...bisa membuat orang relax...menyejukkan situasi. Tapi karena guenya masih aja keras, gue akhirnya jadi bantal keras...yang harus nya dibuat tidur malah dibuat pajangan. Yang harusnya alas kepala jadi alas pantat, malah bisa jadi alas kaki.

Salah ga sih gue? Normal ga kaya gini?
Gue bener-bener pengen lari ke orang yang tepat buat cerita ini semua dan membuat perasaan gue jauh lebih baik. Tapi gue gatau harus memulai darimana, gue ga tau masalah gue sebenernya apa, dan gue gatau mau minta tolong ke dia buat ngapain?

Dasar bantal keras.

Kamis, 02 Juli 2020

Trust Issue

Salah ga sih gue punya trust issue yang berlebihan terhadap orang lain?
Gue pengen banget gitu percaya sama orang 100%, tapi begitu orang tersebut merusak kepercayaan gue sedikit aja, gue langsung ga percaya gitu sama orang...ga ada toleransi.
Salah ga sih?

Sifat yang gatau baik apa buruk ini udah melekat dari gue sejak remaja. Gue rela banget kehilangan teman daripada gue harus berpura-pura baik sama dia padahal dalam hati merasa terkhianati. Gue pernah memutuskan hubungan persahabatan dengan teman gue yang udah 1000% gue percaya banget karena dia merusak kepercayaan gue, karena gue ga bisa terima kenyataan bahwa orang yang gue percaya banget selama ini tu sebenarnya ga trustworthy. Meskipun sedih kehilangan dia, karena dia sahabat gue banget, tapi hari itu gue lega banget karena gue ga perlu lagi pasang kuda-kuda buat sakit hati kalo seandainya dia merusak kepercayaan gue lagi.
Kehilangan sahabat kok bangga? hehe. Nggak lah, gue sedih banget. Tapi mau gimana lagi, nyaman nya begitu?
Itulah kenapa 'teman' gue dikit, karena gue memfilter banget. Apalagi setua ini..bisa dihitung lah dengan jari. Kenapa yang gue anggap teman banget itu sedikit? Mungkin karena kebanyakan orang tu merusak kepercayaan gue, meskipun cuma sedikit presentasenya.

Salah ga sih kaya gitu?
Ya gimana dong? hati tuh ga bisa dibohongin. Kalo udah "you're so dead to me" gimana caranya bisa "you're so bangkit dari kubur to me"?

Tapi gue akan berusaha sangat keras untuk tetap ramah kepada orang-orang yang pernah merusak kepercayaan gue. "You're so dead to me" doesn't mean "you're never existed", right?

Emang gue cancer banget sih, susah banget buat ngebelah cangkang gue buat dapetin daging yang empuk dan lezat. Orang kudu sabar bukain cangkang nya satu2, pake gigi lah, pake palu lah. Dan ga semua orang bisa nikmatin itu kepiting. Tapi sekalinya ada orang yang suka, bisa ketagihan. Terus, kalo lo ketagihan, kolesterol lo bakalan tinggi.

Perumpamaan yang gak banget tapi bener sebener bener nya.
Salah ga sih gue kaya gitu?

Minggu, 28 Juni 2020

The (Mid-) Year Resolution

It's never too late for resolution, is it?
Sebenarnya gue bukan tipe orang yang ngerayain tahun baru terus make a wish mau ngelakuin apa di tahun depan.
Tapi sejak gue nikah, tinggal di bali, apalagi punya anak (pastinya) gue ingin selalu menjadi pribadi yang lebih baik.

2020 itu hampir dilewati setengah jalan dengan pandemi yang notabene nya tidak produktif.
Namun buat gue, dimanapun dan kapanpun bisa dapat "wangsit" untuk melakukan perubahan yang lebih baik, terutama buat diri sendiri.

---

Ini dia resolusinya yang sangat simple, tapi menurut gue bisa merubah hidup gue secara drastis:

1. Less Wasted
Bukan irit atau pelit, tapi mengeluarkan uang untuk keperluan penting dan mendesak aja. Menghindari keseringan beli barang perintilan murahan, karena selain buang uang akan berujung ga terpakai lagi dan dibuang. Serta mengurangi gaya hidup yang konsumtif, karena kalo nurutin keinginan terus ga akan ada habis dan puasnya. Sebenarnya buat apa sih ingin ini dan itu? Biar bahagia? Setelah beli, belum tentu ada jaminan bisa bahagia kok.

2. Nabung? Investasi lah!
Balik lagi ke sebab-akibat resolusi nomer 1, daripada uang nya buat belanja ga jelas mendingan ditabung untuk investasi. Kita semua tau lah ya, investasi itu lebih banyak plus nya daripada minusnya. Ya mungkin minusnya kalo ada sikon yang bikin investasi tsb anjlok, tapi who knows kan sikon yang kaya gimana. Tapi disini karena goal gue less wasted, jadi daripada uang ada ditabungan dipotong biaya admin terus, atau daripada muncul hasrat untuk belanja yang impulsive, mendingan diinvestasikan...atau ditabung. Masih belum tau mau investasi apa, karena selama ini cuma tau emas, deposito, asuransi, dan rumah. Mau coba reksadana, obligasi, dan lainnya. Sebaiknya memang kita konsultasi dulu sama pakarnya, daripada mengira-ngira doang...

3. Sedekah Rutin
Ga perlu penjelasan, karena nggak mau riya.

4. Konsultasi ke Psikolog
Mindset netijen di lingkungan kita kebanayakan "orang ke psikolog adalah orang yang sakit jiwa", padahal menurut gue psikolog adalah penyelamat orang dari gangguan mental dan jiwa. Daripada kita dengerin nasehat orang yang belum tentu valid secara teori, daripada kita mencoba berbagai cara untuk bahagia yang belum tentu bikin kita bahagia, mendingan dengerin dari pakarnya langsung. Ya ga? Bodo amat mau dibilang gila. Emang situ mau bayarin biaya konsulnya?

5. Perbanyak Olahraga
Gue bukan penggemar olahraga, tapi gue harus gerak. Setidaknya jalan, atau jogging kecil sambil refreshing liat pemandangan lah. Gue ga mau hidup sakit-sakitan. Gue ga mau nanti ngerepotin orang dengan kejompoan gue. Sakit itu ga enak. Bergerak itu banyak manfaatnya. Hai orang-orang mager (gue,maksudnya), yuk jangan malas gerak!

6. Sabar, sabar, sabar
Ini yang masih susah...karena gue orang nya ga sabaran, panikan dan suka marah-marah ga jelas. Tapi untungnya partner gue kebalikannya. Sejak nikah, gue banyak banget belajar tentang sabar dari doi. Apalagi setelah punya anak, kayanya gue akan bener-bener berjuang untuk jadi orang yang sabar demi anak gue.

7. Less Sosmed, More Reading
Social media tuh toxic banget ga sih? Gue tu kepengen puasa sosmed, tapi masih butuh juga belanja online apalagi lagi pandemi gini. Selain diri sendiri, musuh terbesar orang-orang di era digital ini sebenernya tu sosmed. Jadi menurut gue, gue harus banyak mengurangi browsing di sosmed yang nggak jelas, apalagi kepo sama kehidupan orang. Lebih baik gue baca buku aja, lebih bermanfaat

---

Kayanya itu aja sih yang baru kepikiran. Ntar kapan-kapan update lagi deh kalo ada tambahan. Gue ga mau resolusi muluk-muluk lah, karena 7 resolusi diatas aja belum bisa dipraktekan secara sempurna.
Ya tapi doain aja ya supaya gue tetep konsisten dan bisa bermetamorfosis dikit-dikit. Hehehe.

Rabu, 24 Juni 2020

Dear 20 years old Me...

It's me, your 8 years later.
Listen carefully, kid, this is important for your 20's:

1. Simpan semua evidence kehidupan dengan baik.
Gue masih inget banget di hari menjelang gue berkepala 2, gue juga menulis di buku dan tumblr -- yang sekarang udah gatau kemana. Sangat disayangkan sekali tulisan2 tersebut hilang. Andai aja gue pinter menyimpan barang-barang bersejarah gue.
Foto. Kaset dan buku. Tiket konser. Tulisan2 gue di: diary, koran, majalan, blog.
Secara tidak disadari gue besar dengan menulis. Bahkan waktu SD gue pernah mengarang novel (yang kalo sekarang macem wattpadd lah ya) pakai tulisan tangan. Pernah juga bikin lagu. Sayang banget itu semua hilang. Mostly karena banjir dan karena gue udah 3x pindah kota selama gue hidup (Bekasi - Surabaya - Bekasi - Denpasar), ya hilang aja gitu karena itu barang ga gue bawa kemana-mana.
Kalau jejak digital gue hilang karena web nya emang udah ga ada aja gitu (friendster, myspace, tumblr, wordpress).

2. Bertemanlah dengan siapapun. Literally SIAPAPUN.
Bisa sama orang tua, anak muda, orang lewat, orang bule, yang sepantaran, dan lain-lain. Banyak hal yang bisa didapat dari berteman dengan siapapun yang secara tidak disadari, ketika lo tua nanti akan berdampak banyak terhadap lo. Gue nyesel banget di usia setua ini temen gue ga banyak. Kadang gue merasa kesepian, karena gue sebenarnya makhluk sosial banget a.k.a butuh orang lain.

3. Temukan passionmu dan Explore, Explore, Explore!
Di umur 20 gue lagi getol-getolnya ngegigs dan nulis. Ngeband juga dikit-dikit. Sayang nya lama kelamaan hobi gue itu ga gue jalanin lagi. Mungkin karena lama kelamaan susah cari waktu luang saat gue kuliah, karena kuliah gue relatif susah. Gue keteteran banget waktu itu. Gue sampe sekarang juga ga nyangka sih bisa bertahan kuliah teknik elektro 4 tahun. Sampe sekarang pun gue juga gatau gue suka itu ilmu apa enggak. Waktu itu gue cukup intens gabung ke beberapa klub seni dan menulis. Tapi lama kelamaan ilang karena akademik dan karir lebih penting. Ternyata di usia sekarang gue kangen banget melakukan passion gue itu. Bahkan sekarang dengerin musik aja gue jarang banget. Referensi musik gue muter aja di musisi itu-itu lagi. Gue dengerin musik jaman sekarang pun ga tertarik. Sedih rasanya, passion kaya hilang gitu aja.
Jangan hanya bermalas-malasan. Banyaklah gerak. Temukan passionmu dan dalami. Pergilah kemanapun yang lo mau. Lakukan apapun yang lo suka. Cari hal baru. Perdalam ilmu. Karena semua yang lo lakukan saat itu akan sangat bermanfaat kedepannya dan lo akan lebih nyesel suatu hari nanti kalo lo ga melakukan itu semua.

4. Olahraga lah dan banyak makan makanan yang sehat.
Karena bisa menjaga metabolisme tubuh. Lo bakalan ga gampang sakit, wajah lo segar, dan pastinya sehat terus. Lo ga bakalan punya GERD, gampang capek, gampang sakit kalo lo olahraga dan makan makanan sehat terus. Di usia 20an memang gue ga makan banyak. Tapi makanan gue cenderung ga sehat. Waktu kuliah di surabaya gue suka banget makan penyetan. Padahal penyetan itu kolesterol tinggi. Gue jarang banget makan buah pas gue ngekos, mungkin karena ribet. Memang gue belom segila sekarang kalau jajan, karena waktu itu belum berpenghasilan. Tapi tetep aja gue belum rutin makan sehat dan olahraga, dan gue menyesal banget rasanya karena efeknya baru terasa sekarang.

5. Gausah beli makeup, mendingan beli skin care.
Beli lah yang di drugstore aja, ga perlu mahal dan banyak jenisnya. Yang penting pakai sunscreen kemana-mana dan sering pakai pelembab.
Kalo bersihin wajah sih gue rajin banget daridulu, karena gue jijik kalo muka gue lagi kaya gorengan.
Tapi secara rutin, rawatlah muka lo dan tubuh lo. Kita tu tinggal di daerah tropis, menghidrasi tubuh luar dalam tu wajib. Gausah muluk2 pengen putih, lembab dan bersih aja udah cukup. Kalo males-malesan nanti di umur 20an akhir lo akan menemukan kerut halus di wajah lo.

6. Banyak-banyak baca buku.
Kebiasaan buruk gue tu ga nyelesain buku. Padahal ibarat pepatah, buku tu jendela ilmu. Artinya ga mungkin baca buku tu useless.
Di usia 20 tahun, gue lagi suka-sukanya sama buku dan brown. Gue keinget waktu itu inferno terbit, gue langsung cari ke togamas. Sekarang? Paling buku yang gue tamatin cuma bisa dihitung dengan jari.

7. Jangan gengsi untuk ucapkan maaf dan terima kasih.
Ini adalah hal yang, sangat disayangkan, ga diajarkan oleh orang-orang terdekat gue sampai gue berumur seperempat abad.. Dengan magic word "maaf" dan "terima kasih" lo akan menjadi pribadi yang mudah introspeksi dan bersyukur dengan apa yang lo punya. Dan itu sangaaaat membuat hati tenang.

8. Banyak bersyukur, bukan mengeluh.
C'est la vie: Itulah hidup. Ga mungkin selalu enak enak nya aja. Ketika kita dibawah ingatlah kita lebih beruntung dari orang2 yang lebih dibawah kita. Ketika kita diatas, ingatlah masih ada lagi yang paling diatas: Allah. Bersyukurlah. Mengeluh akan menebarkan aura negatif, tidak akan menyelesaikan masalah, dan malah membuat pikiran makin kacau. Di usia 20 tahun gue sadar gue banyak mengeluh, dan merasa masalah yang gue alamin tu berat banget. Gue bangga gue jadi makhluk melankolis saat itu (mungkin lagi trend? haha). Padahal banyak bersyukur akan membuat hati dan pikiran tenang.

9. Maafkan dan lupakan
Meskipun ini sampai sekarang masih sulit banget untuk gue praktekkan, tapi yakinlah derajat seseorang yang ikhlas akan naik 1000% levelnya. Buat apa menyimpan dendam, buat apa membenci seseorang terlalu dalam. Toh "balas dendam" terbaik adalah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang kita benci, dan menjadi lebih bahagia dari keadaan kita saat kita membenci.

10. Love yourself more!
9 pesan gue diatas sebenarnya intinya adalah cintai diri lo sendiri, lebih dari lo mencintai orang-orang disekitar lo. Setinggi apapun ketergantungan lo sama orang lain, pada akhirnya lo akan sendiri juga. Lo akan berjuang sendiri. Meninggal pun lo sendiri. Akan ada banyak tantangan dalam hidup yang sangat tidak lo duga dan tidak ada pedoman dalam menjalaninya. Hanya diri sendirilah teman terbaik lo, yang ternyata selama ini adalah musuh terbesar lo. Jadi taklukan diri lo dengan mencintainya.

The Author

Foto saya
Just a small fish swims in an endless ocean.

Archives